March 24, 2017 Administrator Ayam Bakar Wong Solo 0Comment

Sejak 2005, Ayam Bakar Wong Solo merintis pasar ayam bakar di Malaysia. Kini, merek franchise tertua di Indonesia ini sukses menaklukan pasar negeri Jiran dan sudah membuka 7 gerai. Dalam waktu dekat, Ayam Bakar Wong Solo akan melebarkan sayapnya ke Jeddah. Bagaimana franchise ini menaklukan pasar Malaysia? 

Ayam Bakar Wong Solo (ABWS) boleh lah tidak terdengar namanya di Jakarta. Tapi tunggu dulu jika berbicara di luar Jakarta. Di luar daerah seperti Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Papua dan lain sebagainya ABWS tetap berjaya dan menjadi pemimpin pasar ayam bakar. Bahkan tiada yang mengira, jika merek franchise yang berdiri sejak 1991 ini sudah berkibar di Malaysia.

Di negeri Jiran, diam-diam ABWS sudah merintis pasar Malaysia sejak 2005. Merek ini pun menjadi tuan rumah yang berhasil mempopulerkan ayam bakar dan penyet hingga menjadi favorit masyarakat sana. Di Malaysia, ABWS sukses mengembangkan 7 gerai di Slangor di daerah Ampang, Bangi, Kedah, Alostar, Kampung Baru, Ceras, Syah Alam, dan Kajang. Di daerah tersebut rata-rata gerai ABWS selalu ramai dikunjungi customer.

Meski demikian, bukan perkara mudah bagi ABWS untuk bisa menaklukan pasar Malaysia. Berbagai hambatan pun kerap menghadang langkah usaha yang didirikan oleh Puspo Wardoyo ini. Walau begitu, sang pendiri bisnis tidak patah arang dan tekun mengarungi step by step kendala yang seringkali menjadi batu sandungan demi menjadi tuan rumah di negeri Siti Nuhalizah itu.
Beberapa kendala yang dihadapi ABWS menurut Puspo antara lain pertama, persoalan SDM. Di Malaysia, meskipu serumpun menurutnya tidak mudah mencari tenaga pekerja pribuminya. Sebab masyarakat malaysia terbiasa bekerja di perkantoran, dan umumnya tidak mau bekerja menjadi buruh atau karyawan rendahan. “Sehingga saya harus membawa SDM dari Indonesia, atau TKI asal Indonesia di Malaysia,” katanya.

Kedua, katanya, ABWS harus membayar notaris dari Malaysia. Hal itu merupakan aturan main bisnis di sana. “Karena di Malaysia orang mau menjalani bisnis ada aturannya, dan yang mengerti aturan bisnis adalah orang hukum di negaranya. Maka saya juga harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membayar notaris yang nantinya membantu setiap permasalahan hukum yang timbul di tengah perjalanan usaha. Pemerintah Indonesia kurang memperhatikan bisnis franchise anak negeri,” kata Puspo.
Tahap Ketiga, lanjut dia, ABWS harus mencari franchisee yang serius dan tekun dari pribumi Malayasia. Berbeda dengan bisnis franchise dari Indonesia pada umumnya yang membuka cabang sendiri ketika ekspansi ke Malaysia, ABWS membuka cabang bisnis di Malaysia benar-benar lewat jalur franchise. ABWS memiliki seorang franchisee yang sangat serius mengembangkan bisnisnya ke berbagai daerah Slangor di Malaysia.

Untuk soal ini Puspo memang tidak main-main. Dirinya sangat selektif dalam memilih franchisee yang akan dipercaya mengelola ABWS di Malaysia. Franchisee yang dipilihnya harus benar-benar orang yang menyukai produk ABWS. “Yang menjadi franchisee kita di Malaysia dulunya adalah customer yang menyukai produk kita. Jadi dia mengembangkan bisnisnya tidak semata-mata pengen mencari uang saja, namu serius menggeluti bisnisnya dengan tekun dan sabar,” ucapnya.
Dan yang keempat, kunci sukses ABWS mengembangkan franchise di Malaysia tidak lepas konsistensi franchisornya yang selalu peduli dengan kinerja bisnis franchiseenya. Menurut pandangan Puspo, seorang franchisor bukan seorang motivator yang tugasnya hanya memberika motivasi serta banyak memberikan seminar pada orang banyak. Apalagi pas seminar franchisornya sendiri kadang-kadang jualan franchise.

“Akan tetapi, seorang franchisor itu haruslah orang yang mau berbagi pengalaman, kepemimpinan, dan berbagi kekayaan. Ini yang jarang di Indonesia. Biasanya franchisor jarang ada yang mau memberikan pengorbanan dalam tiga aspek tersebut. Maka tidak jarang, bisnis franchisenya hanya berkinerja baik musiman saja,” lanjutnya.
Terakhir, ujar dia, seorang franchisor juga harus pandai membuat inovasi produk. Mengapa? “Karena pasar semakin dinamis dan menuntut, customer juga cepat jenuh dengan produk yang ditawarkan. Sebab itu, franchisor harus bisa memperluas pasar dengan cara membuat inovasi produk. Seperti ABWS yang tidak hanya mengandalkan ayam bakar saja, akan tetapi ada ayam penyet, pecel lele, pecel ikan nila, dan berbagai produk lainnya,” tuturnya.

Sukses menaklukan negeri Jiran bukan berbarti Puspo sudah puas. Justru ia ingin mengibarkan bendera franchisenya di Negara lain, terutama Negara yang masyarakatnya mayoritas muslim. Negara yang menjadi ekspansi ABWS selanjutnya adalah Arab Saudi. InsyaAllah pertengahan musim haji sudah buka di Jeddah.  Semua persiapan sudah matang,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *